Sabtu, 22 September 2018

Islam, Para Penumpang Gelap, Dan Nusantara


Penumpang gelap, bisa disebut juga siluman atau para penyusup dalam ranah strategi dan juga perang. Wujud penumpang gelap yang sulit terdeteksi, sebab mereka sangat mahir memainkan peran. Mereka bisa bergerak menjadi siapa saja, mereka bisa menyerupai apa yang mereka mau, mereka seperti hasil kloning yang dimodifikasi berdasarkan agenda yang mereka rencanakan.

Berbagi peran dalam menyusun rencana dan memanfaatkan momentum adalah kelebihan dari para penumpang gelap ini. Dalam tulisan saya sebelumnya pernah membahas perkara “Corporated Warrior” dan Rakhine. Operasi senyap dalam mengkondisikan konflik secara sistematis.

Mereka bisa ganti topeng semau mereka.

Ya, mengapa sulit terdeteksi?

Menanam agenda dengan mengoperasikan segelintir kelompok guna mengkondisikan kejadian adalah mudah. Mendandani mereka sebagai muslim atau budha dalam konflik di Rakhine, dengan sebaran di sejumlah titik, lantas provokasi masing-masing kelompok hingga puncaknya saling serang dan mereka para penumpang gelap langsung ditarik dari titik-titik secara perlahan.

Pecah konflik, dan menghilang.

…………

Beranjak dari pembahasan Rakhine dan Corporated Warriors, kini kita membahas bagaimana dengan kondisi yang ada di Indonesia terkait dengan hal viral yang menyeret dua kata dan menjadi terminologi yang ramai diperbincangkan, islam dan nusantara. Islam di Indonesia telah lama, jalur perdagangan menjadi metode dakwah hingga akhirnya bisa diterima dengan nilai dan budaya lokal. Sudah cukup lama menyatu dengan nusantara. Selama ini baik-baik saja, dan berjalan normal dan biasa saja. Tetapi, generalisir bahwa islam dan nusantara total harus berbau budaya dan kebiasaan masyarakat lokal terjadi. Sehingga islam dan nusantara mengalami kesalahan tafsir atau disorientasi.

Budaya Indonesia dan islam sudah melekat, tentu hal ini tidak bisa digeneralisir dan menabrak aturan islam terkait akidah. Ada batasan, ada rujukan, bahwa keramahan lokal yang akhirnya diserap islam tentu dapat diterima dengan akal sehat, aturan dasar dalam islam, serta nalar sebagai musim sejati. Tidak mungkin juga hal-hal yang berkaitan dengan akidah ditabrak demi label islam dan nusantara.

Ada juga ulah para penumpang gelap, yang meng-generalisir tentang perbedaan khilafiyah sebagi olahan stigma untuk agenda politik mereka sendiri. Mereka kerap gunakan narasi – hasil generalisir atau justifikasi – perbedaan khilafiyah sebagai, sebagai kelompok radikal, ekstrimis, intoleran, takfiri, anti bhineka. Hingga lebih parahnya mereka kerap gunakan stigma Wahabi, pada mereka yang teguh menjalankan aturan sunnah, quran, serta tegas terhadap hal berbau syirik. Dari situ mereka lakukan olahan stigma atau labeling, dan mencoba menggiring opini untuk menjauhi hal-hal berbau arab.

Sikap ekslusif ini jelas kontra dengan semangat kebersamaan, dan inilah salah satu agenda mereka para penumpang gelap, untuk memecah belah umat islam. Ya, saya jelaskan penumpang gelap, selain menjadi penumpang gelap pada “islam dan nusantara” mereka juga menjadi penumpang gelap atau siluman salah satu ormas besar.

Tidak salah konsep islam dan nusantara yang digagas oleh tokoh-tokoh yang sama-sama kita hormati, karena pada awalnya memang berkonsep sesuai ahlulsunnah, islam rahmah, menebar cinta, dan penuh nilai-nilai persatuan. Ya, tanpa merusak arti dan aturan islam itu sendiri dari segi akidah, dan menerima perbedaan khilafiyah demi persatuan umat islam di Indonesia, sangat luar biasa.

Tetapi, kooptasi islam dan nusantara dilakukan. Padahal tujuan awal islam dan nilai nusantara cukup apik dengan segala aturan berdasarkan konsep ahlulsunnah dan islam yang rahmatan lil ‘alamin. Itu juga berdasarkan penjelasan ulama yang sama-sama kita hormati, Buya Yahya serta para Habaib yang jauh lebih dulu tanpa gembar gembor merasa paling nusantara telah mengajarkan islam di nusantara dengan penuh keramahan dan sesuai syariat islam. Mereka juga kerap menjelaskan perbedaan itu indah, baik fiqh dan mahzab. Luar biasa cara pandang para ulama hanif dan Habaib yang tanpa gembar gembor mengaku paling nusantara seperti para penumpang gelap yang justeru lakukan “Soft Terror”, bentuk yang dilakukan para penumpang gelap ini adalah benar-benar “Soft Terror”, karena lakukan disorientasi makna islam dan nusantara, dengan generalisir perbedaan khilafiyah sebagai bentuk pembangkangan yang secara tak langsung membelah umat islam di Indonesia.

Belum lagi ulah para penumpang gelap ini yang menunggangi ormas besar, mereka berhasil masuk dengan sejuta wajah. Mereka para penumpang gelap kerap menjual nama besar ormas, mengaku-ngaku sebagai yang paling memiliki ormas, lantas membenturkan ormas yang ditunggangi dengan ormas atau kelompok islam lainnya. Inilah agenda para penumpang gelap yang mengkooptasi islam dan nusantara versi mereka, bukan versi original yang disepakati ormasnya dan para ulama dan Habaib yang selama ini telah implementasikan dakwah khas nusantara, tetapi tidak merasa mengaku paling nusantara, tidak anti arab, memahami perbedaan mahzab dan khilafiyah sehingga mampu merangkul umat dengan segala perbedaan demi persatuan Indonesia.

Siapa sebenarnya para penumpang gelap ini? Bagaimana pola mereka menggiring opini, kooptasi “islam dan nusantara”, serta adu domba umat islam di Indonesia? []

Oleh Jack Vardan
Author Of JaxNetwork. Member gerakan tertib nalar.
Dipublikasikan oleh Paradok



Artikel Terkait