Sabtu, 22 September 2018

Pertarungan Siber Jilid III Segera Terwujud


Jagat sosial media disinyalir akan kembali memanas dan berpotensi melahirkan perang sosmed jilid III. Antara buzzer berbayar yang memiliki tendensi tertentu. Dengan tentara siber muslim. Dilengkapi, dengan resimen warganet berakal sehat.

Sebelumnya, di era Pilpres 2014. Kubu tentara siber bayaran, aka jasmev. ‘Sukses’ menyihir jagat sosmed republik. Dengan adanya sosok spin doktor, KD. Dengan kelihaian memainkan narasi isu ham, isu perkawinan PS08, isu kontroversial pensiun dini dari tentara, hingga hal-hal yang sangat private. Terus disemburkan ke publik. Nonstop. 24 jam 7 hari seminggu. Yang hasilnya, dapat disebut mampu mengarahkan swing voter. Dan dibantu oleh invisible hands di papua. Lengkap sudah, mahkota RI 1 digamit mantan walikota solo tersebut.

Dalam kubu buzzer berbayar, tentunya uang adalah tujuan utama mereka berlama-lama nyerondol depan gadget mereka. Sementara disaat yang sama, siber muslim lebih mengedepankan keberlangsungan ruang sosmed yang bersih dari polusi hoaks, fitnah, atau pembunuhan karakter dari tokoh publik yang kritis pada rezim.

Dalam operasinya, tentara siber bayaran milik rezim diberi pelatihan, peta perang, informasi pribadi tokoh oposisi sebagai bahan bullyan. Dan terutama, bonus berupa jabat tangan incumbent dalam foto sebagai prasasti personal tentara fitnah tadi.   Kemudian selanjutnya, setelah mereka turun gelanggang sebagai setan sosmed yang mengharu-biru pelbagai linimasa, dalam area fitnah. Publik juga akan dipermainkan rasa keadilan-nya. Sebagai ekses langsung keberpihakan aparat hukum. Terutama indikasi oknum kepolisian, yang dekat dengan penyandang dana tentara fitnah ini.

Saat ada yang berusaha menghidupkan nalar publik seperti RS dan RG. Dengan media diskusi di berbagai daerah. Paling lama seminggu, atau sepuluh hari kerja sebelumnya. Isu, framing, pembunuhan karakter akan tersaji di berbagai linimasa medsos. Ditingkahi oleh meme’ provokatif, yang menurut saya seharusnya sudah dapat diproses hukum. Karena merendahkan martabat seseorang di depan umum.

Namun seperti ‘biasa’ aparat hukum terkesan pura-pura buta dan cuek dengan situasi tadi. Hal ini tentunya makin menebalkan sifat imun masyarakat, ketika nantinya aparat hukum bekerja sesuai kaidahnya. Wong tumpukan ketidakadilan menggunung, disiram oleh secuil tupoksi yang benar ya tidak akan mengobati luka ketidakadilan tadi.

Situasi seperti sekarang bukan mendadak begitu saja terjadi, namun menurut hemat penulis, memang sudah dipersiapkan dan mengutip Zeng Wei Jan, mirip dengan doktrin “Unrestricted Warfare” (Rencana China Menghancurkan USA) karya Col. Xiao Liang, dan ini adalah perang dalam arti sebenarnya. Perang persepsi. Atau Ghawzul Fikri dalam khazanah islam.

Mereka bertempur dalam derap langkah yang seirama. Baik jam tayang, isi redaksi, bahkan tanpa interaksi. Akun setan tadi, begitu gencar mengumbar aib orang bermodalkan fitnah. Berpeluru dusta dan herannya lagi, bagaikan tak tersentuh hukum. Untouchable. Digjaya membunuhi karakter kubu oposisi, yang kritis terhadap rezim. Sebagai contoh misalnya, silahkan stalking semua akun twitter dengan key detektif.

Maka pembaca, kejijikan akan segera menjalari isi kepala kita. Tatkala dengan begitu beringas, tanpa malu lagi. Mereka melempar hujatan massal pada tokoh publik yang begitu dihormati. Dulu sempat ada tudingan biadab pada Gubernur terpilih Sumut, namun entah apa sebabnya. Seperti biasa tanpa diproses hukum. Semua ornamen hukum menjadi buta dan tulis saat hinaan publik tadi muncul. Kemudian yang anyar -tentunya dengan pola yang sama- adalah Ketua Timses PS08. Sungguh telah membuat rancu kalimat freedom of speech. Menjungkirbalikan nalar sehat netizen. Membuat cyber patrol impoten dibuatnya.

Adalah Sandiaga Uno, Cawapres tamvan bin tajir yang membuat bani fitnah sekarang ini menyatukan bidikan fitnah pada sosoknya. Perhatikan saja, ketika kurs dollar sedang membumbung tinggi, yang secara alamiah dan spontan disikapi dengan ajakan menukarkan mata uang tersebut. Malah direspon sebagai menguntungkan pihak Sandi. Karena otak kotor mereka telah diprogram, bahwa uang adalah tujuan hidupnya. Mereka tidak mampu menyajikan isi kepala mereka, selain dari fitnah dan dusta. Kan seharusnya bisa dilihat sebagai ajakan nasionalisme, tanpa gembar-gembor. Tanpa mendompleng ajang Asian Games. Tanpa beriklan di bioskop. Namun terbukti ampuh. Untuk sekedar mengompres panas tinggi yang diderita oleh rupiah. Belakangan, akibat terjangan dollar yang makin perkasa.

Ekses langsungnya adalah, naiknya harga komoditi impor seperti kedelai. Dan berujung pada keluhan massal para pengrajin. Untuk kemudian disikapi oleh Santri Millenial dengan semacam rembug saran kubu oposisi. Mencari solusi alternatif bagi perekonomian nasional yang kian limbung. Namun, lagi-lagi seperti biasa. Tentara fitnah tadi hanya mengambil secuil bahan, untuk disebarkan sebagai bullyan tingkat nasional. Tempe setipis kartu atm misalnya. Di-fabrikasi sedemikian rupa sebagai cemooh, celaan, sesuatu yang lucu. Karena narasi perumpamaan tadi, justru disikapi dengan arti harfiah. Irisan tempe setipis atm. Oh come on bong..itu satire, itu adalah kiasan. Hidup kalian terlalu terprogram sih, kurang wawasan. Jadi baperan. Dasar somplak.

Tentara fitnah ini, sampai kapanpun tetap harus dilawan. Karena sebagai perbandingan, dalam kontestasi pilkada DKI 2017. Atau perang sosmed jilid II. Justru kubu tentara bayaran luluh lantak. Habis dilumat oleh kelompok yang menamakan diri, tentara siber muslim. Segala dusta, fitnah, hoax dan juga glorifikasi sosok ahok, tidak mempan, majal dan mengempes perlahan. Diperangi dengan sengit, oleh tentara siber muslim tadi.

Padahal, kekuatan mereka sama. Malah lebih kuat. Karena pihak media, sebagian juga sudah terang-terangan ikut menjadi buzzer koh napi. Namun takdir berkata lain, ahok tumbang. Tergeletak babak belur, sosoknya hancur dikuliti oleh kecanggihan mesin perang tentara siber muslim. Yang disatukan oleh ghirah, dikomandoi oleh seruan Imam Besar Habib Rizieq Syihab. Didukung langsung oleh Allah Ta’ala.

Yang mengizinkan berlangsungnya konsolidasi massal berupa Aksi Bela Islam jikid I sampai III. Suatu berkah bagi bangsa ini. Negara kembali utuh. Indonesia masih disayang Illahi. Kekuatan asing dan aseng mundur teratur, para tikus-tikus koruptor mulai mengamankan diri, serta pengusaha hitam kembali kedalam sarangnya.

Jakarta kini kembali normal. Tanpa ujaran kotor, tanpa puja-puji ahok tokoh anti korupsi, tapi terkait aguan cukong reklamasi.

Nah pembaca, tentara bayaran itu sekarang sudah muncul lagi, menantang dengan teriakan parau. Karena memakan gaji hasil fitnah. Mari kita sama-sama satukan tekad, sisakan waktu dua atau tiga jam di depan gadget-laptop anda, sebarkan keunggulan Capres-Cawapres pilihan ulama, selamatkan bangsa ini dari cengkeraman pengkhianat, selamatkan ibu pertiwi dari oligarki, dari neo komunis, dari sekte syiah, serta selamatkan negara ini untuk anak cucu kita nanti. Bismillah.

Lawan ! [Paradok]



Artikel Terkait

loading...