Rabu, 03 Oktober 2018

Bahaya Meninggalkan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar


Amar makruf dan nahi mungkar memiliki peranan penting dalam Islam. Hikmah yang terkandung di dalamnya pun tidak sedikit. Di antaranya, selain menjadi sarana untuk menyampaikan hujjah kepada pelaku maksiat, ia juga merupakan petunjuk ilahi dalam usaha mengurangi angka kriminalitas atau menghilangkannya dari tengah-tengah umat. Sehingga dengan demikian, masyarakat dapat hidup nyaman dan sentosa.

Sebaliknya, ketika amar makruf dan nahi mungkar ini ditinggalkan, maka akibat yang ditimbulkannya pun tidak kalah banyak, di antaranya:

Timbulnya Kerusakan di Muka Bumi

Allah ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfal: 25).

Azab Allah itu sangatlah pedih. Jika azab itu diturunkan di suatu tempat, maka ia akan menimpa semua orang yang ada di tempat tersebut, baik orang saleh maupun ahli maksiat.

Dalam ayat ini, Allah memperingatkan kaum mukminin agar senantiasa membentengi diri mereka dari siksa tersebut dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran.

Sebab, jika mereka meninggalkan amar makruf nahi mungkar, maka kemungkaran akan menyebar dan kerusakan akan meluas. Bila kondisi sudah demikian, maka azab pun akan diturunkan kepada seluruh komponen masyarakat. Di antara kerusakan yang timbul akibat meninggalkan amar makruf nahi mungkar adalah sebagai berikut:
  • Para pelaku maksiat dan dosa akan semakin berani untuk terus melakukan perbuatan nistanya sehingga sedikit demi sedikit akan sirnalah cahaya kebenaran dari tengah-tengah umat manusia. Sebagai gantinya, maksiat akan merajalela, keburukan dan kekejian akan terus bertambah, dan pada akhirnya tidak mungkin lagi untuk dihilangkan.
  • Perbuatan mungkar akan menjadi baik dan indah di mata khalayak ramai, kemudian mereka pun akan menjadi pengikut para pelaku maksiat.
  • Salah satu sebab hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan. Karena, tersebarluasnya kemungkaran tanpa adanya seorang pun dari ahli agama yang mengingkarinya. Sehingga akan membentuk anggapan bahwa hal ter sebut bukanlah sebuah kebatilan. Bahkan bisa jadi mereka melihatnya sebagai perbuatan yang baik untuk dikerjakan. Selanjutnya, sikap menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah dan mengharamkan hal-hal yang dihalalkan-Nya pun akan semakin merajalela.
Menyebabkan turunnya siksa Allah

Di antara sebab turunnya siksa Allah adalah adanya kemungkaran yang merajalela, baik berupa kesyirikan, kemaksiatan, maupun kezaliman. Hal ini sebagaimana disebutkan Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam pernah mendatanginya dalam keadaan terkejut seraya berkata,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذَا قَالَ وَحَلَّقَ بِأُصْبُعَيْهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Lâ ilâha illallâh! Celakalah bangsa Arab, karena kejelekan yang telah mendekat. Hari ini telah dibuka tembok Ya’juj dan Makjuj seperti ini–beliau melingkarkan ibu jari dengan jari telunjuknya.” Kemudian Zainab berkata, “Apakah kita akan binasa wahai Rasulullah, padahal di sekitar kita ada orangorang saleh?” Beliau menjawab, “Ya, jika kemungkaran itu sudah merajalela.” (HR Muslim)

Makna al-khabats menurut Muthafa Dib Al-Bugha dalam Al-Jami’ ash-Shahih al-Mukhtashar meliputi kefasikan, kejahatan, dan kemaksiatan. Ketiga hal tersebut juga tergolong dalam makna “mungkar” yang berarti setiap perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dalam Al-Jawab  al-Kafi, Ibnul Qayyim menukil perkataan Ali bin Abi Thalib, “Tidaklah musibah itu menimpa, kecuali disebabkan dosa, dan musibah itu tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.

Dari sini dapat dipahami bahwa tidak adanya amar makruf nahi mungkar akan menyebabkan tersebar luasnya kemungkaran. Banyaknya kemungkaran akan menyebabkan turun nya siksa Allah, meskipun di masyarakat tidak sedikit ditemukan orang-orang yang saleh.

Menyebabkan Doa tidak dikabulkan

Akibat lain dari meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar adalah tidak dikabulkannya doa manusia. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam:

Demi Zat yang jiwaku di Tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar makruf nahi mungkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya, akan tetapi Allah tidak mengabulkan doa kalian.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahîhul Jâmi’).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa orang yang meninggal kan amar makruf nahi mungkar, permintaannya tidak dikabulkan oleh Allah. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya selalu berusaha untuk melakukan amar makruf nahi mungkar sesuai dengan kemampuannya.

Mendapatkan laknat dari Allah

Umat yang tidak melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar akan mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala. Hal ini telah terjadi pada Bani Isra’il, sebagaimana telah disebutkan dalam firmanNya:

Orang-orang  kafir  dari  Bani  Israil  telah  dilaknat  dengan lisan  Dawud  dan  Isa  putra  Maryam.  Hal itu di sebab kan mereka durhaka dan selalu melampauhi batas. Mereka satu sama lain senantiasa tidak melarang tinda kan mungkar yang mereka perbuat, sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al-Maidah: 78-79)

Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan kepada kita tentang kemaksiatan yang menyebabkan Bani Israil dilaknat oleh Allah. Yaitu mereka melakukan kemungkaran dan tidak ada seorang  pun dari mereka yang mencegah saudaranya dari kemaksiatan yang ia lakukan. Maka, para pelaku kemungkaran dan orang yang membiarkannya mendapatkan hukuman yang sama.

Ringkasnya, perintah amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan tuntunan Allah bagi para hamba-Nya untuk mencapai kemaslahatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Banyaknya ancaman yang Allah sebutkan pertanda bahwa kewajiban ini bukanlah perkara remeh yang bisa diabaikan begitu saja. Sebab, eksistensi tegaknya syariat islam cukup bergantung pada tegaknya perintah tersebut. Maka tepatlah dengan apa yang ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali, “Amar makruf dan nahi mungkar adalah inti agama Islam. Inilah misi utama yang dibawa oleh para nabi.” Wallahu a’lam bishawab! []



Ditulis oleh Fakhruddin
Disadur dari buku “Nahi Mungkar Instruksi Ilahi yang Diabaikan, Digugat, dan Diselewengkan”
Karya; Syaikh Abdul Akhir Al-Ghunaimi, Penerbit Aqwam Solo
Dipublikasikan oleh Kiblat - Pranala penting Al Manhaj



Artikel Terkait