Rabu, 31 Oktober 2018

“Yakin Akhirat Itu Nggak Ada?” Pertanyaan untuk Ateis


Suatu hari, dalam sebuah diskusi yang hangat, ada seorang teman yang bercerita bahwa ia tak bisa menemukan jawaban rasional terhadap pertanyaannya seputar keberadaan akhirat. Menurutnya, kita yang di dunia ini tak bisa mengklaim akhirat itu seperti apa, bahkan tak bisa pula mengklaim bahwa akhirat itu ada, sebab kita belum pernah ke sana. Di ujung uraiannya, ia pun melempar retorika pamungkasnya:

“Emangnya lu yakin akhirat itu ada?”

Nampaknya semakin banyak yang bertanya-tanya seperti ini. Meski tergolong ‘klasik’, pertanyaan semacam ini masih membutuhkan jawaban. Persoalannya sederhana saja: pertanyaan yang tak pernah diajukan tentu tak akan mendapatkan jawaban. Orang yang mempertanyakan masalah semacam ini hampir selalu dapat dipastikan tidak akan membawa pertanyaannya ke hadapan guru agama, atau mengajukannya di tengah-tengah kajian keislaman. Alhasil, pihak ‘lain’ yang tampil menjawabnya.

Mungkin karena sudah biasa tidak mendapat jawaban atas retorikanya, teman saya tadi cukup terhenyak ketika saya membalasnya dengan sebuah retorika juga:

”Emangnya lu yakin akhirat itu nggak ada?”

Kalau alasan untuk tidak meyakini keberadaan akhirat adalah karena kita belum pernah meninggalkan dunia (dengan kata lain: belum pernah mati), maka alasan yang sama pun bisa digunakan untuk tidak meyakini ketiadaan akhirat. Kita memang belum pernah bertandang ke Surga dan Neraka, namun di sisi lain kita juga tak bisa memastikan bahwa Surga dan Neraka itu tidak ada. Jika menggunakan metode semacam itu, maka ujung dari pencarian ini tidak lain hanyalah keraguan yang tidak menawarkan ketentraman dalam hati orang yang bertanya. Tapi apa benar kita masih ragu?

Saya sendiri menyimpan sejumlah pertanyaan tentang alam pikiran mereka yang mengaku tak percaya (atau masih ragu) akan keberadaan Tuhan, akhirat dan segala hal yang berhubungan dengannya. Apa tujuan hidup mereka yang dijangkiti ketidakyakinan ini? Mereka lahir, tumbuh, berpikir, belajar, berkembang biak, sesudah itu mati dan masa hidupnya tak berarti lagi, karena setelah kematian itu tak ada kehidupan lagi. Lalu apa?

Seseorang yang meyakini keberadaan akhirat (dan konsep pembalasan yang terkait dengannya) menjalani hidup dengan rasa kepastian di dalam hatinya. Ia meyakini bahwa setelah kehidupan di dunia ini akan ada kehidupan berikutnya di akhirat; sebuah kehidupan abadi yang merupakan cerminan dari kehidupan kita di dunia. Jika kita banyak berbuat maksiat di dunia, maka kita akan menemukan penderitaan di akhirat. Demikian pula sebaliknya, jika kita melakukan banyak kebaikan di dunia, maka kita akan mendapatkan balasan yang baik di akhirat. Maka, untuk menghindari penderitaan di akhirat, tentu kita berusaha untuk menjadi orang baik di dunia. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak meyakini akhirat ini? Apa yang dapat mendorong mereka untuk berbuat baik dan menjauhi diri dari perbuatan keji? Yang lebih fundamental lagi: apa tujuan hidup mereka?

Dalam sebuah diskusi lain yang ‘lebih panas’, saya sempat mempertanyakan hal-hal tersebut kepada seorang rekan yang lain pula. Saya katakan padanya bahwa saya sulit membayangkan bagaimana kondisi jiwa seorang manusia yang tidak meyakini akhirat. Pikir mereka, yang ada hanyalah dunia, dan setelah dunia tak ada apa-apa lagi. Artinya, eksistensi mereka berakhir dengan kematian dan di balik kematian hanya ada ketiadaan. Bukankah itu adalah suatu hal yang terlalu menakutkan untuk dibayangkan?

Jika tak ada akhirat, maka kehidupan kita di dunia tak lagi memiliki tujuan. Sebab, konsep tujuan hanya dipahami oleh mereka yang meyakini bahwa esok masih ada. Kita, misalnya, memelihara kesehatan, sebagai investasi untuk kehidupan kita seterusnya, karena kita tidak ingin mengisi hari dengan sakit-sakitan. Kita menabung agar di kemudian hari bisa memenuhi kebutuhan. Kita belajar agar masa depan cerah, tidak jadi pengangguran. Dan, tentu saja, kita beribadah agar mendapat balasan yang baik dalam kehidupan akhirat kelak. Mereka yang meyakini balasan di akhirat pasti meyakini pula bahwa tak ada kebaikan yang sia-sia, meski hidup dan kehidupan nyaris berakhir, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam:

Apabila engkau memiliki sebiji kurma di tanganmu maka tanamlah. Meskipun besok akan kiamat, semoga engkau mendapat pahala. (HR. Ahmad)

Lalu apa yang dilakukan oleh mereka yang tak meyakini akhirat?

Teman saya saat itu mengatakan bahwa orang ateis pun punya tujuan hidup. Meski tak meyakini akhirat, bukan berarti mereka abai dengan kehidupannya di dunia. Menurutnya, justru orang-orang ateis inilah yang paling menghargai kehidupan, sebab, bagi mereka, kehidupan itu hanya satu saja. Setelah hidup di dunia berlalu, tak ada lagi yang tersisa. Karena hidup hanya sekali, maka manfaatkanlah sebaik-baiknya. Begitu logika berpikirnya.

Argumen itu, biarpun kedengarannya manis, tapi tidak seperti yang dibayangkan. Ketika orang ateis mengatakan “hidup cuma sekali”, maka pemanfaatan yang dimaksudkan adalah bersenang-senang untuk diri sendiri. Mereka tidak memikirkan orang lain, karena toh hidup cuma sekali, dan tiada waktu yang boleh terbuang untuk selain diri sendiri. Oleh karena itu, orang ateis yang hedonis, berebut kekuasaan, melakukan kezaliman dan memerintah secara absolut adalah pemandangan yang sangat tipikal. Kalau tidak ada akhirat, maka waktu untuk berkuasa dan bersenang-senang ya hanya di dunia!

Selain itu, sama seperti tujuan, konsep ‘rugi’ pun sebenarnya hanya dipahami oleh mereka yang meyakini akan adanya hari esok. Dengan menggunakan contoh-contoh sebelumnya, kita dapat katakan bahwa orang menjaga kesehatan, menabung dan belajar karena tak ingin merugi di masa depan, dan juga beribadah dan menjauhi kemaksiatan agar tak merugi di akhirat. Kalau kehidupan ini hanya di dunia, maka tentu tak ada perasaan merugi jika harus kehilangan hidup itu, bukan?

Sekarang, orang ateis mana yang rela kehilangan hidup?

Karena itu, kita tidak menemukan kepahlawanan dalam sejarah ateisme. Mereka yang (mengaku) tidak meyakini akhirat bukanlah orang yang siap berkorban untuk orang lain, melainkan justru merekalah yang pertama-tama mengorbankan orang lain. Tak ada kemuliaan dalam hidup mereka, karena tak ada nilai abadi yang hendak dijunjung. Jangan bandingkan dengan kisah tiga orang mulia yang hendak berbagi air minum saat sakaratul maut dan akhirnya syahid bersama dalam keadaan itsar (saling mendahulukan), karena hal itu takkan terjadi di kalangan orang ateis. Di satu sisi mereka ngotot mengatakan bahwa akhirat itu tidak ada, di sisi lain mereka begitu takut kehilangan dunia. Tidak ada yang tersisa kecuali kontradiksi. Benarlah kata-kata Buya Hamka dalam bukunya, Pelajaran Agama Islam, ketika mengomentari orang-orang yang mengaku tidak percaya pada Tuhan ini:

Orang yang mengingkari adanya Tuhan sendiri pun, ragu dalam keingkarannya atau ingkar dalam keraguannya.

Tentang mereka ini, Buya menyimpulkan dengan tegas:

Alangkah banyaknya orang yang enggan dan memungkiri, lalu mencari dalil hendak meniadakan Tuhan, kelak ternyata bahwa itu hanyalah suara dari kerongkongannya ke atas, tidak datang dari hati sanubarinya. Dan jika dia terus bersikap demikian, namun yang kena bukanlah Tuhan, tetapi kepalanya sendiri.

Kondisi mereka tak ubahnya masyarakat Yunani kuno yang kebingungan setelah membaca kisah Odysseus yang berjumpa dengan roh Achilles, yang cuma gentayangan saja di underworld (akhirat versi Yunani kuno). Achilles adalah pahlawan besar dari Perang Troy, namun ternyata nasibnya di akhirat sama saja tidak jelasnya dengan yang lain; tidak di Surga, tidak pula di Neraka. Orang Yunani bagaimana pun meyakini akhirat, namun tak ada keadilan di sana. Pada akhirnya terciptalah ambiguitas yang sama dalam jiwa mereka. Mereka hidup hanya untuk dunia, namun diam-diam hatinya resah juga membayangkan akhirat.

Alangkah baiknya jika para pendusta ini segera saja mengakui dengan tulus bahwa sebenarnya hati mereka meyakini keberadaan akhirat. Hal itu bukan hanya lebih sehat, tapi juga lebih selamat. Mengingkari fithrah diri adalah jalan yang terlalu menyakitkan untuk ditempuh. []


Oleh Akmal Sjafril
Pengajat, Penulis Buku & Aktivis #IndonesiaTanpaJIL (biografi)
Artikel malakmalakmal.com



Artikel Terkait

loading...