Minggu, 03 Februari 2019

Cara Berbakti Anak Yang Jauh Dari Orang Tua (Perantauan)


Berbakti kepada orang tua atau dalam istilah syariatnya disebut Birrul Walidain secara bahasa artinya kebaikan dan keutamaan. Adapun secara istilah syariat maknya adalah ; Berbuat baik kepada kedua orang tua. (Mu’jam Lughatil Fuqoha’ : 84)

Dari maknanya kita memahami bahwa perbuatan apa saja yang termasuk berbuat baik kepada orang tua serta memasukkan kebahagiaan ke dalam hati keduanya maka itu adalah bentuk bakti kepada keduanya.

عن عبدالله بن عمرو رضي الله عنهما قال: جاء رجل إلى النبي  يبايعه على الهجرة، وترك أبويه يبكيان، فقال: ارجع إليهما وأضحكهما كما أبكيتهما

“Dari Abdulah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata ; Telah datang seorang lelaki kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk membaiat beliau dalam hijrah sementara ia meninggalkan kedua orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Kembalilah engkau kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis”. (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 8 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 2898).

Orang tua akan senang jika anaknya yang berada di perantauan sering menelpon sekedar menanyakan kabar kesehatannya, menanyakan sawah dan ladangnya, menanyakan keadaan tetangganya di kampung, menanyakan masa kecilnya.

Orang tua akan bahagia jika si anak terkadang mengirimkan hadiah berupa barang yang disukainya. Orang tua akan berbangga diri ketika mendengar cerita dari karib kerabatnya bahwa anaknya suka bersilaturrahim kepada mereka. Hati orang tua akan berbunga-bunga jika sesekali si anak pulang mengunjungi keduanya di waktu-waktu liburan.

Orang tua akan berbinar mata dan hatinya mendengar tutur kata lemah lembut dari si anak. Orang tua akan salut kepada si anak yang diam memperhatikan petuah dari orang tua yang kadang disampaikan dengan nada emosi. Tahan rasa sakit hati karena ucapan orang tua, jangan sampai sakit hati kita menjerumuskan kita ke dalam hinanya jurang kedurhakaan, naudzubillah min dzalik.

Diantara bentuk bakti kita kepada orang tua yang jauh adalah melunasi hutang-hutangnya, membayarkan fidyah jika sudah tak mampu puasa, membayarkan kifarat semua sesuai dengan kemampuan kita dan Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya

Ketika teringat oleh kita perbuatan dan ucapan orang tua yang menyakitkan hati kita, hendaknya kita mengingat jasa-jasa baik keduanya yang tak akan mampu untuk kita membalasnya. Dan hendaknya kita mengingat ayat-ayat serta hadis-hadis yang memerintahkan kita untuk mencintai, menghormati serta menyayangi orang tua kita. Kemudian doakan kebaikan bagi orang tua kita di dunia dan akhirat, cintai mereka sepenuh hati agar Allah juga mencintai kita.

Jangan pernah kita membuat perhitungan untung dan rugi ketika kita berusaha menyenangkan hati orang tua. Karena jika orang tua bahagia karena bakti anaknya kepadanya, ia akan berdoa dengan doa yang mustajab untuk kebaikan anaknya di dunia dan akhirat. Semua akan terbayar lunas di dunia dan akhirat, disebutkan dalam sebuah riwayat :

عَنْ مُحَمَّدُ بْنُ سِيْرِيْنَ قَالَ بَلَغَتِ النَّخْلَةُ عَلَى عَهْدِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَلْفَ دِرْهَمٍ، فَعَمَدَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ إِلَى نَخْلَةٍ فَنَقَرَهَا وَأَخْرَجَ جُمَّارَهَا فَأَطْعَمَهَا أُمَّهُ فَقَالَ لَهُ مَا حَمَلَكَ عَلَى هَذَا ..؟ وَأَنْتَ تَرَى النَّخْلَةَ قَدْ بَلَغَتْ أَلْفًا فَقَالَ إِنَّ أُمِّيْ سَأَلَتْنِيْهِ وَلاَ تَسْأَلُنِيْ شَيْئًا أَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ أَعْطَيْتُهَا – رواه الحاكم

“Dari Muhammad bin Sirin berkata : Pada zaman Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu harga pohon kurma pada saat itu mencapai 1.000 dirham. Saat itu usamah bin zaid melubangi pohon kurma yang di belinya dan mengeluarkan jantung pohon kurma-nya (empol- bahasa jawa) dan di berikan kepada ibunya sebagai makanan. Kemudian Muhammad bin Sirin berkata ; Wahai Usamah apa yang membuatmu melakukan hal ini ? sedangkan engkau tahu bahwa harga kurma ini senilai 1.000 dirham ..!. Usamah bin Zaid berkata : Sesungguhnya ibuku meminta jantung pohon kurma kepadaku. Dan tidaklah ibuku meminta sesuatu yang aku kuat untuk membelinya kecuali aku akan memberikannya”. (HR Hakim dalam Al-Mustadrak : 3/595 dan Thabrani dalam Al-Kabir : 370). Wallahu a’lam.




Oleh Ustadz Abul Aswad Al Bayati
Konsultasi Bimbingan Islam



Artikel Terkait