Senin, 04 Maret 2019

Bermain Api Dengan Kata Kafir?


Putusan Sidang Komisi Bahstul Masail Ad-diniyyah al-Maudhuiyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama NU 2019 menuai kontroversi. Dalam sidang tersebut NU memutuskan tidak menggunakan kata kafir bagi non-muslim di Indonesia. Kata kafir dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. (cnnindonesia.com, 28/2/2019).

Keputusan sidang tersebut akhirnya memunculkan banyak kritik. Bahkan ramai hingga ke linimasa. Mayoritas publik menganggap keputusan tersebut sebagai upaya berani merevisi kalam Ilahi. Yang memuat konsekuensi menantang murka Allah Ta’ala.

Respon keras pun datang dari dalam NU sendiri. Ustadz H Ainul Yaqin Ssi, Apt, MSi, Sekretaris MUI Jawa Timur, dengan tegas mengatakan apapun (alasannya), ini berbahaya. Sebab jika umat Islam sudah tidak percaya dengan term Al-Qur’an, maka lama-lama akan risih menyebut sebagai Muslim. Karena khawatir dianggap tidak toleran dan menyakiti kelompok lain.

Ia juga menjelaskan kafir itu artinya menutup diri dari kebenaran Al-Quran. Kafir bukan WNA (warga negara asing). Ketika Nabi Muhammad Shallallahu’alayhi wa Sallam membuat Kesepakatan Madinah, juga menggunakan kata kafir. Kita juga sering menyebut kufur nikmat, kufur berasal dari kata yang sama, kafara . Kufur nikmat berarti menutup pengakuan dari nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi, jangan didramatisir, apalagi dikesankan menyakiti. (duta.co, 1/3/2019).

Senada dengan beliau, pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari, Malang, KH Luthfi Bashori, mengaku tidak kaget dengan hasil Munas NU. Menurutnya, jika ditilik lebih jauh, lanjutnya, memang sudah lama ada skenario meruntuhkan bangunan pemahaman Islam.

Masih menurutnya, dalam bangunan pemahaman Islam ada aqidah, syariah dan akhlaqul karimah. Bangunan ini yang akan dilucuti. Sehingga semua menjadi kepercayaan ketuhanan dengan cukup memandang budi pekerti sebagai syariatnya. Inilah propaganda kaum sekular liberal yang terus berusaha menyamakan semua agama dan keyakinan.

Gus Luthfi menyebut hasil Munas NU itu sudah parah. Ia menegaskan, kata kafir itu istilah dalam Al-Qur’an, tidak bisa diubah. Sebab itu wahyu Ilahi. (arrahmah.com, 1/3/2019).

Seperti kita tahu, kata kafir secara harfiah berarti orang yang menutupi dari kebenaran Alquran. Dalam Al-Quran, kata kafir dengan berbagai bentuk kata jadinya, disebut sebanyak 525 kali. Meralat istilah kafir sama saja mengubah apa yang sudah ditetapkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Sungguh perbuatan yang menantang murka Allah Ta’ala!.

Di satu sisi, betapa lancang mulut-mulut mereka. Sebab tanpa sadar dengan berani menyebut nama Allah Ta’ala, Dzat Yang Menyebut, “Ya Ayyuha al-Kafirun!” kepada orang kafir. Dengan mengatakan bahwa istilah kafir mengandung unsur “kekerasan teologis”! Astaghfirrullohal’adziim.

Padahal kata kafir bagi mereka yang berada di luar Islam. Sungguh lebih baik dari pada istilah yang digunakan oleh agama lain. Misal, umat Kristen menyebut mereka yang di luar agamanya sebagai The Lost Sheep (domba yang tersesat) dalam Matius 15:24. Sementara orang Yahudi dalam menyebut Goyim (yang merupakan sifat binatang buas) bagi mereka yang berada di luar agamanya (Baba Mezia 114b). Maka, hanya Islam yang memberi penghormatan bagi mereka yang beragama di luar Islam. Karena menganggap mereka sebagai manusia.

Baca juga: Bentuk Loyal Pada Orang Kafir
Baca juga: Mengapa Ada Muslim Membenci Islam?
Baca juga: Awas, Orang Munafik Ternyata Lebih Berbahaya Dari Orang Kafir

Sungguh, tak hanya kali ini pernyataan mereka mengundang amarah kaum muslimin. Setelah pernyataan bahwa mereka yang paling benar dan kunci dari surga. Kini mereka bermain api dengan kata kafir.

Akan lebih bijaksana jika mereka mau merenungi firman Allah Ta’ala dalam Surat at-Taubah [9] ayat 9 yang artinya :

Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan.

Meralat kata kafir yang telah ditetapkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Demi mendapat simpati dari manusia. Apakah mereka tak takut kualat? Alih-alih meralat kata kafir, lebih baik meralat akal yang tak lagi sehat. Di satu sisi segera bermuhasabah dan bertaubat. Sebab telah bermain-main dengan Al-Qur’an yang merupakan kalam Allah Ta’ala. Astaghfirrullohal’adziim. WalLahu’alam.

Ummu Naflah
Penulis Bela Islam, Member AMK (Akademi Menulis Kreatif)
Dipublikasikan oleh Suara Islam



Artikel Terkait