Rabu, 01 Mei 2019

Genesis Of Kaum IQ 200 Sekolam


Batavia di penghujung abad ke-19. Pemerintah Kompeni Belanda yang berpusat di Weltevreden, sekarang sekitar wilayah Monas dan Lapangan Banteng, mendatangkan Schout Van Hinne, seorang perwira polisi khusus, untuk memberangus gerakan tujuh pendekar-ulama Jayakarta bernama Pituan Pitulung alias Pitung. Sejak dibaiat di Pesantren Kiapang Kebon Pala, Tenabang, oleh Kiai Haji Naipin di tahun 1880, ketujuh pendekar-ulama Betawi itu malang-melintang menolong rakyat pribumi dari kekejaman Belanda dan tuan tanah Cina tanpa bisa dihalangi. Penjajah Belanda kewalahan.

Schout Van Hinne punya strategi. Selain mengerahkan pasukan marsose yang terdiri dari orang-orang pribumi pengkhianat yang dibayar untuk bekerja demi kepentingan penjajah, dan juga mengerahkan polisi reguler dan juga para tukang pukul Tuan Tanah Cina, yang biaya operasinya banyak yang berasal dari setoran para tuan tanah Cina di Batavia, Van Hinne juga menggunakan perang yang tidak konvensional yaitu memproduksi berita-berita penuh fitnah terhadap Pitung yang dimuat dua koran terkemuka Batavia yakni Hindia Ollanda dan Locomotif. Sosok Pitung yang merupakan para pendekar-ulama yang sangat tawadhu, zuhud, namun memiliki ilmu yang tinggi dalam ilmu agama maupun dunia, termasuk ilmu maen pukul, dicitrakan sebagai perampok, pemerkosa, dan penjahat kriminal.

Upaya Van Hinne untuk mencitrakan Pitung sebagai gerakan kriminal menuai hasil. Warga Batavia dan Jayakarta pun pandangannya pecah, ada yang percaya dan termakan tipu daya Van Hinne, namun ada pula yang tidak tertipu propaganda murahan itu. Jika dilihat latar belakang masing-masing kelompok, maka ada faktor-faktor yang menyebabkan mereka seperti itu.

Pertama, Kelompok Yang Termakan Propaganda Penjajah. Mereka adalah warga pribumi dan keturunan yang menurut terminologi Cliffort Geerzt sebagai “Abangan”, yakni orang-orang yang jauh dari masjid dan hidupnya disibukkan dengan dunia saja. Bisa jadi mereka secara resmi beragama Islam, namun jauh dari Masjid dan Al-Qur’an. Mereka bergaul dengan sesama mereka, setiap hari sibuk membaca berita dari koran-koran resmi Batavia, media massa mainstream yang didukung rezim penguasa, yang sebenarnya berisi racun dan penuh dengan tipu daya serta proganada busuk. Media-media massa yang didukung penguasa ini sepenuhnya berfungsi sebagai corong propaganda untuk melanggengkan penjajahan yang tengah berlangsung dan membius kesadaran paa pembacanya.

Kedua, Kelompok Yang Tidak Percaya Propaganda Penjajah. Mereka ini adalah kaum yang dekat dengan langgar dan masjid, yang suka mendengarkan pengajian dan kutbah dari para ulama, kiai, dan ustadz. Sebab itu mereka tidak pernah mempercayai propaganda dari kaum penjajah, terlebih lagi mereka yang tengah berkuasa adalah para kafirin. Kaum seperti ini adalah kaum yang tercerahkan, yang kritis, dan mampu menilai situasi kondisi bangsa dengan jernih, karena mereka tidak mau dan jauh dari media-media massa mainstream yang didukung penguasa.

Masyarakat kita sekarang juga terbelah. Kondisinya mirip dengan warga Jayakarta dan Batavia di penghujung abad ke-19 lalu. Ada yang mati-matian percaya dan yakin dengan pendapatnya, bahkan saking cintanya, mendewa-dewakan orang yang mereka puja bagaikan tuhan. Mereka berpegangan kepada berita-berita dari media-media besar yang notabene menjadi corong propaganda kekuatan modal yang besar dibelakangnya, yang ingin melestarikan dan semakin menjajah negeri ini seperti halnya Belanda di zaman dahulu. Dan uniknya, mereka ini juga jauh dari masjid dan tuntunan para ustadz, kiai, dan ulama. Mereka termasuk kaum abangan yang tidak pernah peduli dengan agamanya. Sama persis seperti di zaman Schout Van Hinne.

Sedangkan kelompok masyarakat yang kritis sekarang ini, juga dekat dengan masjid dan para ulama. Mereka tidak mudah dibohongi propaganda media besar dan bukan termasuk “Generasi Micin” atau “Generasi Sinetron”. Sebab itu kesadaran mereka tetap terjaga dengan baik dan bisa dengan jernih melihat benar atau salah dalam suatu peristiwa.

Bagaimana dengan kelompok sekarang yang notabene katanya juga kelompok islamis, dekat dengan masjid, dan juga para ulamanya, namun dalam sikap dan tindakan malah nyinyir terhadap Islam, bahkan tega-teganya membubarkan pengajian?

Di zaman Schout Van Hinne juga ada yang seperti ini. Namanya Haji Syamsuddin. Ini haji pendatang, bukan warga asli Jayakarta, yang memiliki kekayaan banyak hasil dari usahanya yang banyak menyusahkan rakyat. Syamsuddin, walau bergelar haji, namun dia menjadi sekutu bagi Tuan Tanah Cina dan penjajah Belanda. Haji Syamsudin punya rumah besar di Marunda, punya usaha penyewaan kapal, punya peternakan berbagai macam hewan termasuk kuda, dan rumahnya dijaga oleh tukang-tukang pukul yang digajinya.

Suatu hari, ketujuh pendekar Pitung yang menyamar sebagai rombongan Demang Bekasi mendatangi rumah Haji Syamsudin. Dengan tipu muslihat, Pitung berhasil memperdaya Haji Syamsuddin dan membawa semua harta bendanya, yang kemudian dibagikan oleh Pitung kepada rakyat jelata yang ditemuinya di sepanjang jalan sampai habis. Harta benda Haji Syamsuddin berasal dari pemerasan yang dilakukannya terhadap rakyat kecil, oleh Pitung harta itu dikembalikan kepada rakyat kecil lagi. Akhirnya Haji Syamsuddin sadar dan malah bergabung dengan gerakan Pitung. Rumah Haji Syamsuddin tersebut sekarang ini kadung disebut sebagai Rumah Pitung di Marunda, padahal itu bukan rumah ketujuh pendekar Pitung.

Histoire se repete. Sejarah selalu berulang. Dan hari ini kita menyaksikan pengulangan sejarah. Siapa tahu, kelompok IQ 200 Sekolam yang ada sekarang adalah anak cucu daripada kaum pribumi yang dulu juga memusuhi pendekar-ulama Pitung dan para ulama yang mendukungnya? Siapa tahu. Apalagi Habib Rizieq, tokoh sentral yang mereka musuhi ini memang keturunan Pitung. [rd/eramuslim]



Artikel Terkait