Rabu, 28 Agustus 2019

Vape 'Ngegas' Terus, Paru-paru Wanita Ini Rusak Dipenuhi Cairan


Aubree Butterfield mengaku kecanduan vape selama tiga tahun dan melakukannya nyaris tanpa henti. Namun kebiasaannya itu berubah ketika ia mendadak muntah darah dan kesulitan bernapas. Wanita berusia 25 tahun asal Utah, Amerika Serikat (AS) tersebut mengaku tak pernah merokok. Ia mulai menyukai vape karena merasa lebih aman daripada merokok.

"Aku benar-benar nggak memerhatikan adanya sisi negatif dari vaping. Aku tahu nikotin itu bisa bikin candu tapi vape kelihatannya sangat aman," tuturnya, dikutip dari The Sun. Awalnya Aubree mendapati kawan sekamarnya saat kuliah sedang vaping, dan itu membuatnya ingin melakukan juga. Setelah mencobanya pertama kali, ia tak dapat berhenti.

Ia menghabiskan sekitar 100 dolar AS atau setara dengan 1,5 juta rupiah sebulannya untuk vaping. Ia memilih cairan vape dengan perasa agar semakin tak terasa seperti merokok nikotin.

"Rasanya kayaknya keren dan bisa membantu rasa cemasku. Tapi ujung-ujungnya malah membuatnya memburuk. Aku tak pernah sekalipun merokok. Aku tahu (rokok) itu buruk untuk tubuhmu dan bisa membuatmu kecanduan jadi kupikir aku nggak akan mau (merokok)," tambahnya.

Aubree sempat menyembunyikan kebiasaan tersebut setelah keluarganya khawatir. Hingga suatu hari, ia muntah tanpa henti dan merasakan nyeri sendi dan sakit kepala yang amat sangat.

Ia juga merasa lemas sampai kondisinya memburuk, ia tak dapat berjalan dan muntah darah. Nyerinya berpindah ke dada dan menyulitkannya bernapas. Lehernya sangat tegang, tak bisa digerakkan, dan ia selalu merasa lelah meski tidur dalam waktu yang lama.

Setelah memutuskan untuk ke rumah sakit, hasil pindaian menunjukkan jantungnya mengalami inflamasi yang parah dan nyaris membuatnya terkena serangan jantung. Yang lebih mengejutkan lagi, paru-parunya penuh berisi dengan cairan vape dan didiagnosis lipoid pneumonia.

Situs Health Line menyebutkan lipoid pneumonia merupakan kondisi langka yang terjadi karena partikel lemak masuk ke dalam paru-paru. Lipoid atau lipid merupakan molekul lemak, dan gejala yang ditimbulkan biasanya memburuk seiring waktu dan bisa membahayakan nyawa.

Kini Aubree harus mengandalkan tangki oksigen untuk dapat tetap hidup hingga bulan Oktober nanti. Ia mengaku telah berhenti vaping sepenuhnya, namun rasa candu itu masih terus menghantuinya.

"Aku sudah berhenti vaping namun aku terus-terusan ingin vaping. Tiap kali aku melihat seseorang vaping bikin aku ingin melakukannya juga. Tapi aku tak mau ada orang lain yang mengalami hal yang sama sepertiku. Aku ingin menyebarkan kepedulian agar orang-orang dapat mengenali gejalanya," kata Aubree.

Kisah Aubree menjadi salah satu dari ratusan kasus munculnya penyakit paru misterius di kalangan pengguna vape di Amerika Serikat. Yang mengejutkan, kebanyakan mereka adalah remaja dan pemuda-pemudi. Kini AS sedang melakukan investigasi untuk menentukan penyebab pasti 'wabah penyakit vape' ini.

Baca juga: Hukum Vape, Vapor, dan Rokok Elektrik Menurut Islam
Baca juga: Lihat Video Ini Bagi yang Masih Ragu Merokok itu Haram
Baca juga: Bagaimana Sebenarnya Hukum Rokok Dalam Agama Islam?
Baca juga: Ancaman Hukuman Bagi Perokok Di Akhirat



Frieda Isyana Putri - detikHealth



Artikel Terkait